Senin, 14 Maret 2011 komentar
 AGAMA
 
Pelajaran agama wajib dalam kurikulum sekolah dasar
hingga perguruan tinggi. Namun, pelajaran itu
sepertinya tidak berdampak pada perilaku tawuran
antarpelajar, pemakaian narkoba, dan gejala seks bebas
di kalangan muda. Bahkan diperhadapkan dengan problem
nasional yang lebih luas seperti pertikaian
antaretnis, pertikaian antarumat, kekerasan
horizontal, teror, dan budaya korupsi, kita patut
bertanya-tanya ”Apakah efek pendidikan agama?” 

Semua imoralitas itu berlangsung kian intensif
berbarengan dengan kemandulan pendidikan agama di
sekolah. Fenomena pendidikan agama itu tidak lain
cerminan problem hidup keberagamaan di Tanah Air yang
telah terjebak ke dalam formalisme agama. Pemerintah
merasa puas sudah mensyaratkan agama sebagai wajib
dalam kurikulum. Guru agama merasa puas sudah
mengajarkan materi pelajaran sesuai kurikulum. Peserta
didik merasa sudah beragama dengan menghafal materi
pelajaran agama. Semua pihak merasa puas dengan
obyektifikasi agama dalam bentuk kurikulum dan nilai
rapor. 

Memberagamakan dan Memanusiakan 

Mengikuti pelajaran agama tidak otomatis mencetak
insan beragama. Insan beragama adalah pribadi yang
mampu menghayati agama, menjadikannya semakin bertakwa
dan semakin manusiawi. Itulah fitrah manusia. Tujuan
agama adalah memanusiakan manusia. Ini bukan
tautologi. Lahir sebagai manusia adalah satu hal,
tetapi hidup sebagai manusia dalam martabatnya adalah

komentar

Posting Komentar