AGAMA
Pelajaran agama wajib dalam kurikulum sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Namun, pelajaran itu sepertinya tidak berdampak pada perilaku tawuran antarpelajar, pemakaian narkoba, dan gejala seks bebas di kalangan muda. Bahkan diperhadapkan dengan problem nasional yang lebih luas seperti pertikaian antaretnis, pertikaian antarumat, kekerasan horizontal, teror, dan budaya korupsi, kita patut bertanya-tanya ”Apakah efek pendidikan agama?” Semua imoralitas itu berlangsung kian intensif berbarengan dengan kemandulan pendidikan agama di sekolah. Fenomena pendidikan agama itu tidak lain cerminan problem hidup keberagamaan di Tanah Air yang telah terjebak ke dalam formalisme agama. Pemerintah merasa puas sudah mensyaratkan agama sebagai wajib dalam kurikulum. Guru agama merasa puas sudah mengajarkan materi pelajaran sesuai kurikulum. Peserta didik merasa sudah beragama dengan menghafal materi pelajaran agama. Semua pihak merasa puas dengan obyektifikasi agama dalam bentuk kurikulum dan nilai rapor. Memberagamakan dan Memanusiakan Mengikuti pelajaran agama tidak otomatis mencetak insan beragama. Insan beragama adalah pribadi yang mampu menghayati agama, menjadikannya semakin bertakwa dan semakin manusiawi. Itulah fitrah manusia. Tujuan agama adalah memanusiakan manusia. Ini bukan tautologi. Lahir sebagai manusia adalah satu hal, tetapi hidup sebagai manusia dalam martabatnya adalah

komentar
Posting Komentar